Kamis, 20 Oktober 2016

Captagon, Narkoba Penggerak Perang Suriah




Sampai sekarang banyak yang terheran-heran kenapa Tentara ISIS di Suriah dapat melakukan kebrutalan diluar batas-batas kemanusian. Berbagai pertanyaan muncul mengenai sebab dan dorongan mengapa ISIS melakukan hal ini. Pemahaman agama yang keliru kah ? Motif Ekonomi dan Politik kah ? atau adakah sebab lain yang melatarbelakangi perbuatan mereka ? Tulisan ini akan sedikit menjawab motif lain yang melatarbelakangi perbuatan Tentara ISIS diatas.

Awalnya menjelang terjadinya konflik Suriah, ada sebuah narkoba yang sangat terkenal dan dipakai di kalangan para pemberontak, tak terkecuali Tentara ISIS. Sebuah investigasi yang dilakukan oleh Robyn Juan Mata, seorang Jurnalis Lebanon pada Agustus 2015 menguatkan dugaan ini. Dalam penelusurannya, Robyn menemukan fakta bahwa para pemberontak Suriah menggunakan Captagon dalam berperang untuk menimbulkan rasa berani, tiada belas kasihan, badan segar bugar untuk membantu mereka terus berjuang. Intinya, Captagon seperti doping (stimulant) yang dapat memacu adrenalin didalam tubuh.

Robyn juga menelusuri rute penyelundupan Captagon yang diawali dari Beirut Lebanon sampai ke tangan pemberontak serta akses disebuah pabrik di mana Captagon diproduksi. Dalam investigasi ini juga terungkap fakta bagaimana Captagon merupakan narkoba yang sangat populer yang diproduksi sebanyak setengah juta sampai satu juta pil per minggu tergantung permintaan dari pihak pemberontak.

Di akhir investigasinya, Robyn menemukan fakta perputaran uang yang digunakan untuk menggerakkan konflik perang Suriah. Ia berhasil mewancarai salah satu gembong narkoba kaya yang hidup mewah di Eropa yang dikenal dengan nama “Abu”. Dalam penjelasannya, Abu menceritakan  bagaimana "industri 800 juta dolar" dari bisnis Captagon secara langsung memicu konflik Suriah. Dalam konflik Suriah, Abu awalnya berpihak kepada tentara Pembebasan Suriah (FSA). Keuntungannya dari bisnis ini mencapai 6 juta dollar tahun 2014 yang sebagian besar dia gunakan untuk mendukung pemberontak Suriah.

Jaringan Abu ini sangat luas tak terkecuali di Arab Saudi yang katanya sangat mencintai Captagon dibandingkan dengan Alkahol (dilarang di negara itu). Abu juga meyakini Arab Saudi membeli Captagon darinya untuk didistribusikan kepada para Jihadis (Tentara ISIS) di Suriah. Menurutnya Arab Saudi adalah pengekspor konlflik di Timur Tengah. Pernyataan Abu ini terbukti bukan isapan jempol belaka. Karena pada tanggal 27 Oktober 2015, seperti dilansir oleh Aljazeera, Pangeran Abdel Mohsen bin Walid bin Abdulaziz ditangkap di bandara Internasioanl Beirut Lebanon karena tertangkap tangan mengemas 2 ton pil captagon dan sejumlah kecil kokain ke dalam 40 koper untuk diterbangkan dengan pesawat pribadi sang pangeran ke Arab Saudi.

Di lain pihak sejak konflik Suriah meletus dan diiringi masifnya penyelundupan dan peredaran Captagon menuju Suriah, polisi di berbagai negara Timur Tengah yang berbatasan langsung dengan Suriah sering melakukan operasi tangkap tangan peredaran Captagon. Polisi Beirut misalkan, pada tahun 2014 berhasil menggagalkan penyelundupan Ccaptagon sebanyak 15 juta Pil Captagon (4 ton) ke Suriah. Jumlah itu setara dengan 300 juta dollar dan merupakan terbesar yang berhasil digagalkan di Lebanon.

Apa itu Captagon ?
Captagon adalah salah satu dari beberapa nama merek untuk senyawa obat Fenethylline Hidroklorida. Captagon bukanlah obat baru. Ensiklopedia Manufaktur Obat-obatan menempatkan debut pertamanya pada tahun 1961, ketika itu diproduksi oleh Chemiewerk Homburg, anak perusahaan dari perusahaan kimia khusus Degussa. Menurut indeks Merck, paten untuk produksi Captagon adalah tahun 1962.

Captagon dalam lingkup obat-obatan dikenal sebagai keluarga Amfetamin. Ini adalah obat buatan manusia tapi secara kimiawi berkaitan dengan doping yang memicu kerja adrenalin tibuh kita. Ketika seseorang mengkonsumsi Captagon, sistem tubuh mengurainya menjadi amfetamin, serta teofilin (kandungan alami yang terdapat pada teh dan biasa berjumlah sangat sedikit) yang juga memiliki aktivitas merangsang kerja jantung.

Obat Amfetamin merangsang sistem saraf pusat, meningkatkan kewaspadaan, meningkatkan konsentrasi dan kinerja fisik, dan membuat rasa nyaman dalam tubuh. Dalam sebuah film dokumenter versi BBC Arab, si pemakai menggambarkan rasa "HIGH" waktu mengkonsumsi Captagon seperti: "Saya merasa seperti saya memiliki dunia", "Merasa seperti memiliki kekuatan Super yang tidak dimiliki orang lain, benar-benar mengagumkan", "Rasa takut menjadi hilang setelah mengkonsumsi Captagon".

Captagon adalah zat yang bersifat "mengendalikan" atau "mengontrol" fungsi tubuh. website Reuters melaporkan bahwa pada tahun 1960 Captagon digunakan untuk mengobati depresi dan narkolepsi (penyakit yang menyebabkan rasa ngantuk atau lelah yang berlebihan). Namun pada tahun 1980-an komunitas medis telah menentukan bahwa sifat adiktif Captagon ini melebihi manfaat klinis (menyebabkan ketergantungan yang berlebihan). Pada saat itu Captagon dilarang di sebagian besar negara. Perlu diketahui juga pengguna Amfetamin dalam jangka panjang bisa menderita efek samping seperti depresi ekstrim (gila), kurang tidur, kerja jantung berlebihan dan gizi buruk.

Prajurit Super
Fenomena Captagon diatas sebetulnya hampir mirip dengan Pervitin yang digunakan oleh Prajurit Nazi Jerman dalam Perang Dunia Ke II. Channel National Geographic beberapa waktu lalu menayangkan “Nazi World War Weird: Hitler’s Meth Head.” Ceritanya tentang sisa-sisa peninggalan perang di era Nazi. Yang mengesankan adalah tentang keberhasilan tentara Adolf Hitler yang jumlahnya hanya 86 orang memenangkan sebuah pertempuran. Salah satu yang membuat tentara-tentara itu gagah perkasa adalah karena mereka bisa bertahan untuk tak beristirahat selama 3 hari 3 malam. 

Salah satu kunci kemenangan tentara Jerman adalah daya tahan tubuh para pasukannya. Untuk membuat mereka tetap pada kondisi prima, tidak mengenal rasa takut dan tahan untuk tak beristirahat, mereka diberi Pervitin. Obat ini yang kemudian mampu untuk meningkatkan semangat, kuat melek sekaligus menghilangkan rasa takut. Jutaan tablet pervitin diberikan kepada tentara Jerman selama tahun 1940.

Pervitin adalah semacam “doping” yang membuat orang kecanduan. Pada tahun-tahun tersebut, Pervitin dijual bebas. Semua kalangan mengonsumsinya. Peredarannya tersebar luas di Jerman. Kelompok militer kemudian menggunakannya untuk ketahanan para serdadunya.  Meski begitu, penggunaan obat ini ternyata berefeksamping. Dalam sebuah serangan ke Lenigrad, Rusia, dilaporkan satu unit tentara Jerman menjadi gila.

Apa yang Harus Diwaspadai ?
Saya masih meyakini bahwa dasarnya, manusia itu baik. Punya naluri untuk tidak menyakiti ataupun dengan keji memperkosa, membunuh, sampai memenggal kepala sesamanya. Hanya saja, faktanya, ada fenomena dimana tentara-tentara ISIS di Timur Tengah, banyak melakukan tindakan di luar batas-batas kemanusiaan.

Sampai tulisan ini ditulis, di Indonesia belum ada data yang menyebutkan peredaran Captagon. Namun bukan berarti kita lengah dan mendiamkan diri begitu saja. Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu, mengatakan sejak tiga bulan lalu ada sekitar 23 WNI simpatisan atau anggota ISIS yang telah menginjakkan kaki di Indonesia. "Sudah ada 23 orang yang dari Indonesia. Itu sudah dua tiga bulan lalu. Saya sudah waspadai," kata Ryamizard, sebagaimana dikutip detikcom, Selasa (20/9/2016).

Sekira sepekan silam, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Suhardi Alius, menyampaikan data yang sedikit berbeda. Seperti dinukil The Strait Times, Suhardi, mengatakan pihaknya mengidentifikasi 47 WNI yang telah kembali dari Suriah. Presiden Jokowi juga telah meminta agar mereka terus diawasi.

Bukan saja karena mereka kembali ke kampung halamannya akan membawa ideologi, keahlian, dan pengalaman dalam perang dan kemudian merekrut orang untuk melakukan kegiataan Teroris di Indonesi. Tapi yang lebih utama adalah, momentum kepulangan mereka jangan sampai diiringi dengan penyebaran narkoba jenis Cpatagon ini, bukan ?   

Sumber: BNN Indonesia
  
#stopnarkoba

Share this

0 Comment to "Captagon, Narkoba Penggerak Perang Suriah"

Posting Komentar